Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ahli Ibadah Belum Tentu Masuk Surga



Siapa Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat?

Setiap Muslim tentu mendambakan surga dan berharap amal ibadahnya menjadi bekal terbaik di akhirat. Salat ditegakkan, puasa dijalankan, zakat dan sedekah ditunaikan demi meraih ridha Allah SWT. Namun, ada satu golongan yang justru disebut bangkrut pada hari kiamat, meskipun semasa hidupnya dikenal sebagai ahli ibadah.

Siapakah mereka?

Kisah Ahli Ibadah yang Tertahan Masuk Surga

Dikisahkan oleh tabi’in Wahab bin Munabbih, ada seorang pemuda yang bertobat dari seluruh kemaksiatannya. Sejak saat itu, ia menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT selama 70 tahun. Ia rajin berpuasa, sedikit tidur, menjauhi kenyamanan dunia, bahkan tidak mengonsumsi makanan berlemak.

Namun setelah wafat, sebagian kerabatnya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, ia mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengampuni seluruh dosanya, kecuali satu kesalahan kecil: ia pernah mengambil sebatang lidi untuk dijadikan tusuk gigi tanpa izin pemiliknya.

Kesalahan yang tampak sepele itu ternyata membuatnya tertahan untuk masuk surga. Ia belum bisa melangkah lebih jauh karena masih memiliki tanggungan atas hak orang lain.

Kisah lain datang dari seorang juru timbang. Ia dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi semasa hidupnya kurang teliti dalam menimbang biji-bijian. Tanah dan debu yang menempel di dasar takaran membuat ukuran menjadi sedikit berkurang. Kelalaian kecil itu ternyata menjadi sebab ia mendapatkan siksa, hingga akhirnya mendapat pertolongan berkat doa orang-orang saleh.

Dari dua kisah ini, terlihat bahwa ibadah yang panjang belum tentu cukup jika hak orang lain masih terabaikan.

Orang Bangkrut Menurut Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki harta atau barang dagangan. Namun Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang bangkrut yang sesungguhnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidupnya gemar mencaci, memfitnah, mengambil harta orang lain, menyakiti, bahkan menumpahkan darah.

Akibatnya, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum semua urusan selesai, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya. Pada akhirnya, ia pun dicampakkan ke dalam neraka. (HR Muslim dan Tirmidzi)

Inilah kebangkrutan yang sebenarnya: habisnya pahala karena kezaliman terhadap sesama.

Riya, Penyakit yang Menghapus Amal

Selain kezaliman, ada pula penyakit hati yang dapat menghapus amal, yaitu riya. Riya adalah beribadah bukan karena Allah SWT, melainkan demi pujian manusia.

Orang yang riya mungkin tampak saleh di mata manusia, tetapi amalnya kosong di sisi Allah. Keikhlasan menjadi kunci diterimanya ibadah. Tanpa niat yang tulus, amal bisa gugur dan tak tersisa apa-apa saat seseorang kembali kepada-Nya.

Para ulama mengingatkan bahwa ada orang-orang yang kelak datang ke alam kubur tanpa membawa amal sedikit pun, karena seluruh ibadahnya dilakukan demi pencitraan, bukan karena keimanan.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari kisah dan hadits tersebut, jelas bahwa ahli ibadah yang bangkrut di akhirat adalah mereka yang:

Rajin beribadah, tetapi gemar berbuat zalim kepada sesama.

Mengabaikan hak orang lain, meski dalam perkara kecil.

Tidak menjaga keikhlasan dalam beramal.

Ibadah bukan hanya soal hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga tentang menjaga hak dan perasaan manusia. Kesalahan kecil yang dianggap remeh bisa menjadi beban besar di akhirat.

Semoga kita termasuk golongan yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perbuatan, serta senantiasa memurnikan niat karena Allah SWT.